Showing posts with label Tugas. Show all posts
Showing posts with label Tugas. Show all posts

Tuesday, 22 January 2013

Sejarah masuknya Islam di INDONESIA

Sejarah masuknya Islam di
INDONESIA





Proses Masuk dan Berkembangnya Agama Islam di Indonesia
Sejarah mencatat bahwa kaum pedagang memegang peranan penting dalam persebaran agama dan kebudayaan Islam. Letak Indonesia yang strategis menyebabkan timbulnya bandarbandar perdagangan yang turut membantu mempercepat persebaran tersebut. Di samping itu, cara lain yang turut berperan ialah melalui dakwah yang dilakukan para mubaligh.

a. Peranan Kaum Pedagang
Seperti halnya penyebaran agama Hindu-Buddha, kaum pedagang memegang
peranan penting dalam proses penyebaran agama Islam, baik pedagang dari luar Indonesia
maupun para pedagang Indonesia.
Para pedagang itu datang dan berdagang di pusat-pusat perdagangan di daerah pesisir. Malaka merupakan pusat transit para pedagang. Di samping itu, bandar-bandar di sekitar Malaka seperti Perlak dan Samudra Pasai juga didatangi para pedagang.
Mereka tinggal di tempat-tempat tersebut dalam waktu yang lama, untuk menunggu datangnya angin musim. Pada saat menunggu inilah, terjadi pembauran antarpedagang dari berbagai bangsa serta antara pedagang dan penduduk setempat. Terjadilah kegiatan saling memperkenalkan adat-istiadat, budaya bahkan agama. Bukan hanya melakukan perdagangan, bahkan juga terjadi asimilasi melalui perkawinan.
Di antara para pedagang tersebut, terdapat pedagang Arab, Persia, dan Gujarat yang umumnya beragama Islam. Mereka mengenalkan agama dan budaya Islam kepada para pedagang lain maupun kepada penduduk setempat. Maka, mulailah ada penduduk Indonesia yang memeluk agama Islam. Lama-kelamaan penganut agama Islam makin banyak. Bahkan kemudian berkembang perkampungan para pedagang Islam di daerah pesisir.
Penduduk setempat yang telah memeluk agama Islam kemudian menyebarkan Islam kepada sesama pedagang, juga kepada sanak familinya. Akhirnya, Islam mulai berkembang di masyarakat Indonesia. Di samping itu para pedagang dan pelayar tersebut juga ada yang menikah dengan penduduk setempat sehingga lahirlah keluarga dan anak-anak yang Islam.

Hal ini berlangsung terus selama bertahun-tahun sehingga akhirnya muncul sebuah komunitas Islam, yang setelah kuat akhirnya membentuk sebuah pemerintahaan Islam. Dari situlah lahir kesultanan-kesultanan Islam di Nusantara.

b. Peranan Bandar-Bandar di Indonesia
Bandar merupakan tempat berlabuh kapal-kapal atau persinggahan kapal-kapal dagang. Bandar juga merupakan pusat perdagangan, bahkan juga digunakan sebagai tempat tinggal para pengusaha perkapalan. Sebagai negara kepulauan yang terletak pada jalur perdagangan internasional, Indonesia memiliki banyak bandar. Bandar-bandar ini memiliki peranan dan arti yang penting dalam proses masuknya Islam ke Indonesia.

Di bandar-bandar inilah para pedagang beragama Islam memperkenalkan Islam kepada para pedagang lain ataupun kepada penduduk setempat. Dengan demikian, bandar menjadi pintu masuk dan pusat penyebaran agama Islam ke Indonesia. Kalau kita lihat letak geografis kota-kota pusat kerajaan yang bercorak Islam pada umunya terletak di pesisir-pesisir dan muara sungai.
Dalam perkembangannya, bandar-bandar tersebut umumnya tumbuh menjadi kota bahkan ada yang menjadi kerajaan, seperti Perlak, Samudra Pasai, Palembang, Banten, Sunda Kelapa, Cirebon, Demak, Jepara, Tuban, Gresik, Banjarmasin, Gowa, Ternate, dan Tidore. Banyak pemimpin bandar yang memeluk agama Islam. Akibatnya, rakyatnya pun kemudian banyak memeluk agama Islam.
Peranan bandar-bandar sebagai pusat perdagangan dapat kita lihat jejaknya. Para pedagang di dalam kota mempunyai perkampungan sendiri-sendiri yang penempatannya ditentukan atas persetujuan dari penguasa kota tersebut, misalnya di Aceh, terdapat perkampungan orang Portugis, Benggalu Cina, Gujarat, Arab, dan Pegu.
Begitu juga di Banten dan kota-kota pasar kerajaan lainnya. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kota-kota pada masa pertumbuhan dan perkembangan Islam memiliki ciri-ciri yang hampir sama antara lain letaknya di pesisir, ada pasar, ada masjid, ada perkampungan, dan ada tempat para penguasa (sultan).

c. Peranan Para Wali dan Ulama

Salah satu cara penyebaran agama Islam ialah dengan cara mendakwah. Di samping sebagai pedagang, para pedagang Islam juga berperan sebagai mubaligh. Ada juga para mubaligh yang datang bersama pedagang dengan misi agamanya. Penyebaran Islam melalui dakwah ini berjalan dengan cara para ulama mendatangi masyarakat objek dakwah, dengan menggunakan pendekatan sosial budaya. Pola ini memakai bentuk akulturasi, yaitu menggunakan jenis budaya setempat yang dialiri dengan ajaran Islam di dalamnya. Di samping itu, para ulama ini juga mendirikan pesantren-pesantren sebagai sarana pendidikan Islam.
Di Pulau Jawa, penyebaran agama Islam dilakukan oleh Walisongo (9 wali). Wali ialah orang yang sudah mencapai tingkatan tertentu dalam mendekatkan diri kepada Allah. Para wali ini dekat dengan kalangan istana. Merekalah orang yang memberikan pengesahan atas sah tidaknya seseorang naik tahta. Mereka juga adalah penasihat sultan.
Karena dekat dengan kalangan istana, mereka kemudian diberi gelar sunan atau susuhunan (yang dijunjung tinggi). Kesembilan wali tersebut adalah seperti berikut.
(1) Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim). Inilah wali yang pertama datang ke Jawa pada abad ke-13 dan menyiarkan Islam di sekitar Gresik. Dimakamkan di Gresik, Jawa Timur.
(2) Sunan Ampel (Raden Rahmat). Menyiarkan Islam di Ampel, Surabaya, Jawa Timur. Beliau merupakan perancang pembangunan Masjid Demak.
(3) Sunan Derajad (Syarifudin). Anak dari Sunan Ampel. Menyiarkan agama di sekitar Surabaya. Seorang sunan yang sangat berjiwa sosial.
(4) Sunan Bonang (Makdum Ibrahim). Anak dari Sunan Ampel. Menyiarkan Islam di Tuban, Lasem, dan Rembang. Sunan yang sangat bijaksana.
(5) Sunan Kalijaga (Raden Mas Said/Jaka Said). Murid Sunan Bonang. Menyiarkan Islam di Jawa Tengah. Seorang pemimpin, pujangga, dan filosof. Menyiarkan agama dengan cara menyesuaikan dengan lingkungan setempat.
(6) Sunan Giri (Raden Paku). Menyiarkan Islam di luar Jawa, yaitu Madura, Bawean, Nusa Tenggara, dan Maluku. Menyiarkan agama dengan metode bermain.
(7) Sunan Kudus (Jafar Sodiq). Menyiarkan Islam di Kudus, Jawa Tengah. Seorang ahli seni bangunan. Hasilnya ialah Masjid dan Menara Kudus.
(8) Sunan Muria (Raden Umar Said). Menyiarkan Islam di lereng Gunung Muria, terletak antara Jepara dan Kudus, Jawa Tengah. Sangat dekat dengan rakyat jelata.
(9) Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah). Menyiarkan Islam di Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon. Seorang pemimpin berjiwa besar.

3. Kapan dan dari mana Islam Masuk Indonesia
Sejarah mencatat bahwa sejak awal Masehi, pedagang-pedagang dari India dan Cina sudah memiliki hubungan dagang dengan penduduk Indonesia. Namun demikian, kapan tepatnya Islam hadir di Nusantara?
Masuknya Islam ke Indonesia menimbulkan berbagai teori. Meski terdapat beberapa pendapat mengenai kedatangan agama Islam di Indonesia, banyak ahli sejarah cenderung percaya bahwa masuknya Islam ke Indonesia pada abad ke-7 berdasarkan Berita Cina zaman Dinasti Tang. Berita itu mencatat bahwa pada abad ke-7, terdapat permukiman pedagang muslim dari Arab di Desa Baros, daerah pantai barat Sumatra Utara.

Abad ke-13 Masehi lebih menunjuk pada perkembangan Islam bersamaan dengan tumbuhnya kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Pendapat ini berdasarkan catatan perjalanan Marco Polo yang menerangkan bahwa ia pernah singgah di Perlak pada tahun 1292 dan berjumpa dengan orang-orang yang telah menganut agama Islam.

Bukti yang turut memperkuat pendapat ini ialah ditemukannya nisan makam Raja Samudra Pasai, Sultan Malik al-Saleh yang berangka tahun 1297.
Jika diurutkan dari barat ke timur, Islam pertama kali masuk di Perlak, bagian utara Sumatra. Hal ini menyangkut strategisnya letak Perlak, yaitu di daerah Selat Malaka, jalur laut perdagangan internasional dari barat ke timur. Berikutnya ialah Kerajaan Samudra Pasai.

Di Jawa, Islam masuk melalui pesisir utara Pulau Jawa ditandai dengan ditemukannya makam Fatimah binti Maimun bin Hibatullah yang wafat pada tahun 475 Hijriah atau 1082 Masehi di Desa Leran, Kecamatan Manyar, Gresik. Dilihat dari namanya, diperkirakan Fatimah adalah keturunan Hibatullah, salah satu dinasti di Persia. Di samping itu, di Gresik juga ditemukan makam Malik Ibrahim dari Kasyan (satu tempat di Persia) yang meninggal pada tahun 822 H atau 1419 M. Agak ke pedalaman, di Mojokerto juga ditemukan ratusan kubur Islam kuno. Makam tertua berangka tahun 1374 M. Diperkirakan makam-makam ini ialah makam keluarga istana Majapahit.

Di Kalimantan, Islam masuk melalui Pontianak yang disiarkan oleh bangsawan Arab bernama Sultan Syarif Abdurrahman pada abad ke-18. Di hulu Sungai Pawan, di Ketapang, Kalimantan Barat ditemukan pemakaman Islam kuno. Angka tahun yang tertua pada makam-makam tersebut adalah tahun 1340 Saka (1418 M). Jadi, Islam telah ada sebelum abad ke-15 dan diperkirakan berasal dari Majapahit karena bentuk makam bergaya Majapahit dan berangka tahun Jawa kuno. Di Kalimantan Timur, Islam masuk melalui Kerajaan Kutai yang dibawa oleh dua orang penyiar agama dari Minangkabau yang bernama Tuan Haji Bandang dan Tuan Haji Tunggangparangan. Di Kalimantan Selatan, Islam masuk melalui Kerajaan Banjar yang disiarkan oleh Dayyan, seorang khatib (ahli khotbah) dari Demak. Di Kalimantan Tengah, bukti kedatangan Islam ditemukan pada masjid Ki Gede di Kotawaringin yang bertuliskan angka tahun 1434 M.
Di Sulawesi, Islam masuk melalui raja dan masyarakat Gowa-Tallo. Hal masuknya Islam ke Sulawesi ini tercatat pada Lontara Bilang. Menurut catatan tersebut, raja pertama yang memeluk Islam ialah Kanjeng Matoaya, raja keempat dari Tallo yang memeluk Islam pada tahun 1603. Adapun penyiar agama Islam di daerah ini berasal antara lain dari Demak, Tuban, Gresik, Minangkabau, bahkan dari Campa. Di Maluku, Islam masuk melalui bagian utara, yakni Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo. Diperkirakan Islam di daerah ini disiarkan oleh keempat ulama dari Irak, yaitu Syekh Amin, Syekh Mansyur, Syekh Umar, dan Syekh Yakub pada abad ke-8.


Read More..

Cerpen

Dia Berubah


Alur


Perkenalan      :Aku mempunyai seorang teman di kelasku  yang baru. Pertama-tama dia yang mulai mendekatiku. Aku sangat senang mempunyai seorang teman baru. Dia sangat pintar. Selain itu, dia juga lucu dan enak diajak bicara. Sejak saat itu dia selalu ber sama-sama denganku ke mana saja.
Masalah          :Setelah lama bersama dengan dia, aku menyadari nya kalau dia tergolong anak yang egois. Dia telah berubah. Dia benar-benar berubah. Dulu dia baik, tetapi sekarang dia mulai terlihat sifat buruknya.
Konflik            :Suatu ketika, guruku sedang menerang kan   pelajaran. Temanku itu tidak mengerti pelajaran yang diikutinya dan aku pun tidak mema hami nya. Dia bertanya padaku dan aku men jawab tidak tahu jawabannya karena memang aku tidak tahu. Akan tetapi, betapa ter kejutnya diriku karena begitu aku menjawab tidak tahu, kata-kata pedas mulai menyakiti diriku ini. Aku dicaci maki. Aku sudah tidak tahan akan sikapnya.
Klimaks          :Ia selalu mengatakan kalau aku ini tidak bisa apa-apa. Dengan keberanian ku, aku berbicara jujur dan terbuka dengan dia. Aku juga bilang kalau aku tidak suka dengan kata-katanya yang menyakitkan dan sifatnya itu. Aku katakan kalau dia tidak berubah, dia tidak akan mempunyai banyak teman. Namun, dia malah marah dan meng ejek aku dan temanku yang lain.
Peredaan         :Besoknya, dia tidak masuk sekolah. Betapa berbahagianya aku ini karena dia tidak masuk sekolah. Hari demi hari telah terlewati, tidak terasa sudah tiga minggu dia tidak masuk ke sekolah. Aku mulai khawatir juga.Walau pun aku sedang marah padanya, tetapi aku juga perlu mendoakannya agar dia tidak tertimpa apa-apa
Penerapan       :Besoknya, aku mendengar kabar kalau dia sudah pindah sekolah. Aku pun terkejut. Ketika pulang sekolah, aku menerima surat dan satu paket bingkisan. Ternyata peng irimnya adalah temanku itu. Kemudian, aku membaca surat nya. Isi suratnya, dia minta maaf atas per lakuan nya itu. Aku bersyukur kepada Allah karena dia telah berubah dari perbuatannya itu. Aku pun me maafkan meskipun sampai saat ini aku belum bertemu dia lagi. Aku berharap suatu hari nanti kita akan menjalin persahabatan lagi.




Aku mempunyai seorang teman di kelasku yang baru. Pertama-tama dia yang mulai mendekatiku. Aku sangat senang mempunyai seorang teman baru. Dia sangat pintar. Selain itu, dia juga lucu dan enak diajak bicara. Sejak saat itu dia selalu ber sama-sama denganku ke mana saja.

Hari demi hari kujalani kehidupanku di kelas dengan sangat bahagia bersama temanku itu. Tetapi hari berganti hari, penderitaanku yang me nyakitkan hati akan di mulai.

Setelah lama bersama dengan dia, aku menyadari nya kalau dia ter golong anak yang egois. Dia telah berubah. Dia benar-benar berubah. Dulu dia baik, tetapi sekarang dia mulai terlihat sifat buruknya. Memang kuakui kalau dia lebih pintar daripada aku dan aku bukan tandingannya dalam belajar.

Suatu ketika, guruku sedang menerang kan pelajaran. Temanku itu tidak mengerti pelajaran yang diikutinya dan aku pun tidak mema hami nya. Dia bertanya padaku dan aku men jawab tidak tahu jawabannya karena memang aku tidak tahu. Akan tetapi, betapa ter kejutnya diriku karena begitu aku menjawab tidak tahu, kata-kata pedas mulai menyakiti diriku ini. Aku dicaci maki. Aku sudah tidak tahan akan sikapnya.

Ia selalu mengatakan kalau aku ini tidak bisa apa-apa. Dengan keberanian ku, aku berbicara jujur dan terbuka dengan dia. Aku juga bilang kalau aku tidak suka dengan kata-katanya yang menyakitkan dan sifatnya itu. Aku katakan kalau dia tidak berubah, dia tidak akan mempunyai banyak teman. Namun, dia malah marah dan meng ejek aku dan temanku yang lain.

Besoknya, dia tidak masuk sekolah. Betapa berbahagianya aku ini karena dia tidak masuk sekolah. Hari demi hari telah terlewati, tidak terasa sudah tiga minggu dia tidak masuk ke sekolah. Aku mulai khawatir juga. Walau pun aku sedang marah padanya, tetapi aku juga perlu mendoakan nya agar dia tidak tertimpa apa-apa.

Besoknya, aku mendengar kabar kalau dia sudah pindah sekolah. Aku pun terkejut. Ketika pulang sekolah, aku menerima surat dan satu paket bingkisan. Ternyata peng irimnya adalah temanku itu. Kemudian, aku membaca surat nya. Isi suratnya, dia minta maaf atas per lakuan nya itu. Aku bersyukur kepada Allah karena dia telah berubah dari perbuatannya itu. Aku pun me maafkan meskipun sampai saat ini aku belum bertemu dia lagi. Aku berharap suatu hari nanti kita akan menjalin persahabatan lagi.
 
Read More..

Pidato

Siwak



Syukur alhamdulillah kita panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga pada kesempatan ini kita bisa berkumpul di tempat ini. Selanjutnya, marilah kita berdoa semoga shalawat serta salam selalu terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang telah menunjukkan jalan lurus untuk mencapai kesuksesan dunia dan akhirat. 
Pada hari ini saya akan menjelaskan tentang “Siwak”, Siwak atau menggosok gigi adalah kegemaran Nabi Muhammad Saw. Dalam setiap kesempatan beliau selalu bersiwak, bahkan setiap tidur sekalipun siwak selalu siap tersedia di samping beliau. Menjelang wafatnya beliau masih sempat bersiwak terlebih dahulu sebelum menghebuskan nafas terakhir. Allahumma Sholi Wa Sallim ‘alaihi.
 Siwak sendiri menurut Imam Nawawi bisa diartikan satu perbuatan untuk membersihkan gigi atau bisa diartikan sebuah kayu yang digunakan untuk menggosok gigi [1]( Kayu Aru; siwak; Salvador Persica).
 Jadi gosok gigi seperti yang kital lakukan sehari-hari dengan memakai odol misalnya bisa pula disebut dengan Siwak. Bisa pula diartikan benda atau kayu (kayu aru) yang digunakan untuk mengosok gigi. Meskipun mengosok gigi dengan kayu Aru menurut pandangan mayoritas lebih utama lebih utama.
 Tentu saja harus ada niat aatau menghadirkan niat mengikuti sunnah Nabi ketika menggosok gigi, ketika mandi yang dilakukan kita sehari-hari. Dan pastinya tidak ada pahala sama sekali jika tidak diniatkan. Maka gosok gigi yang kita lakukan hanya sekedar membersihkan gigi saja.
 Dari hadist-hadist tentang siwak ada sebuah hadist yang sangat luar biasa yakni tatkala ’Aisyah menceritakan:
 “Empat macam kebiasaan para Nabi: Malu, memakai minya wangi, bersiwak dan nikah.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi. Hadist hasan) [2]
 Disini kita bisa menepuk dada, bahwa tidak ada sama sekali cerita dari kitab-kitab Allah Swt yang ada sekarang ini, ataupun riwayat dari pada Nabi-nabi Allah selain dari Rasulullah Saw bagaimana kebiasaan para nabi mereka. Kita tahu bahwa para Nabi itu juga bersiwak dari hanya penuturan Nabi kita. Ini sungguh luar biasa sekali, karena sebuah perbuatan yang kecil ternyata dilakukan pula oleh para Nabi yang mungkin saja berjumlah ribuan. Dan kebiasaan para Nabi ini, hanya dikisahkan oleh penuturan penutup semua Nabi, yaitu Nabi Muhammad Saw.
 Jadi tidak ada alasan lagi kita meninggalkan bersiwak, ketika wudhu, sholat ataupun ketika hendak melakukan ibadah lainnya.
 Allahumma Sholli wa Sallim ‘Alla Muhammad.I. Sunnah Nabi Yang Hampir Diwajibkan
 Satu ibadah yang dianggap ringan namun hampir saja diwajibkan oleh Rasulullah Saw. Namun karena dianggap siwak itu akan memberatkan pada umatnya, maka tidak ada satupun hadist yang menunjukan wajibnya bersiwak. Meskipun sebenaranya jika dilakukan, minimal zaman sekarang sudah sangat mudah sekali. Setiap saat kita, minimal ketika mandi pasti bersikat gigi karena kita tahu manfaat dan fungsi mengosok gigi bagi kesehatan mulut dan gigi.
 Namun selayaknya pula tidak meninggalkan siwak minimal ketika berwudhu dan ketika hendak Solat. Seperti anjuran Rasulullah Saw di bawah ini:
 لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي- أَوْ عَلَى النَّاسِ لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ صلاة
 “Jika saja akan memberatkan umatku maka (atau pada manusia), maka akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan sholat”(HR. Bukhari Muslim)
 لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ وُضُوْءٍ
 “Seandainya aku tidak memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka utk bersiwak setiap hendak berwudhu.” (HR. Bukhari)
 Kebiasaan beliau tidak saja bersiwak ketika wudhu atau solat, namun ketika sesudah Solat pun beliau tetap bersiwak pula. Seperti yang tergambar dalam hadist dibawah ini:
 كَانَ رَسُولُ اللهِ j يُصَلِّي بِاللَّيْلِ رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَنْصَرِفُ فَيَسْتَاكُ
 “Adalah Rasulullah Saw solat malam dua rakaat, kemudian pergi bersiwak.” (HR.Ahmad & Ibnu Majah. Hadist Hasan riwayat Ibnu Abbas)[3]
Saat Nabi Pulang Ke Rumah
 Dan sungguh menajubkan pula setelah mendengar penuturan istri beliau, Aisyah bahwa pekerjaan yang dilakukan Rasulullah Saw ketika pulang rumah adalah bersiwak!!
 عَن عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَ j كَانَ إِذَا دَخَلَ بَيْتَهُ بَدَأَ بِالسِّوَاكِ
 Dari Aisyah ra, “ Adalah (kebiasaan) Nabi Saw ketika masuk rumah, beliau selalu memulai dengan bersiwak.” (HR. Muslim)Ketika Bangun Tidur
 Sesuatu yang lumrah jika menggosok gigi terlebih dahulu sebelum tidur, Namun perbuatan Rasulullah Saw ketika bangun tidur langsung bersiwak adalah contoh yang harus kita tiru juga. Hal ini diketahui dari penuturan beberapa sahabat beliau. Ibnu ‘Umar ra menceritakan:
 أَنَّ رَسُولَ الله j كَانَ لاَ يَنَامُ إِلاَّ وَالسِّوَاكُ عِنْدَهُ، فَإِذَا اسْتَيْقَظَ بَدَأَ بِالسِّوَاكِ
 “Sungguh Rasulullah Saw tidaklah tidur kecuali siwak (selalu) di dekatntya. Dan jika beliau bangun langsung bersiwak.” (HR. Ahmad. Hadist Sahih)[4]
 “Adalah Rasulullah jika bangun dari malam dia mencuci dan menggosok mulutnya dengan siwak”. (HR. Bukhari Muslim) Dari Auf Ibn Malik menceritakan:
 قُمْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ j فَبَدَأَ فَاسْتَاكَ ثُمَّ تَوَضَّأَ ، ثُمَّ قَامَ يُصَلِّي ، وَقُمْتُ مَعَهُ ، فَبَدَأَ فَاسْتَفْتَحَ الْبَقَرَةَ لاَ يَمُرُّ بِآيَةِ رَحْمَةٍ إِلاَّ وَقَفَ فَسَأَلَ ، وَلاَ يَمُرُّ بِآيَةِ عَذَابٍ إِلاَّ وَقَفَ يَتَعَوَّذُ ، ثُمَّ رَكَعَ فَمَكَثَ رَاكِعًا ، بِقَدْرِ قِيَامِهِ ، يَقُولُ فِي رُكُوعِهِ : سُبْحَانَ ذِي الْجَبَرُوتِ وَالْمَلَكُوتِ ، وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ " ، ثُمَّ قَرَأَ آلَ عِمْرَانَ ، ثُمَّ سُورَةً ، فَفَعَلَ مِثْلَ ذَلِكَ
 “Aku pernah bangun bersama Rasulullah Saw, kemudian beliau bersiwak, dilanjutkan dengan berwudhu. Kemudian beliau Solat dan aku pun solat. [5](HR. Imam Ahmad, Nasai dan Abu Daud)
Musa al-Asy‘ari ra menceritakan pula:
 أَتَيْتُ النَّبِيَّ j وَهُوَ يَسْتَاكُ بِسِوَاكٍ رَطْبٍ. قَالَ: وَطَرَفُ السِّوَاكِ عَلَى لِسَانِهِ وَهُوَ يَقُوْلُ: أُعْ، أُعْ. وَالسِّوَاكُ فِي فِيْهِ كَأَنَّهُ بَتَهَوَّعُ
 “Aku pernah berkunjung kepada Nabi Saw, ketika itu beliau sedang bersiwak dengan siwak basah. Ujung siwak itu di atas lidahnya dan terdengar (suara) “uh..uh’ ketika ujung siwaknya ada di mulut beliau. Seakan-akan beliau hendak muntah.” (HR. Bukhari Muslim)Kisah Ibn Abbas
 عن ابْن عَبَّاسٍ أَنَّهُ بَاتَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَقَامَ نَبِيُّ اللَّهِ j مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَخَرَجَ فَنَظَرَ فِي السَّمَاءِ ثُمَّ تَلاَ هَذِهِ الأيَةَ فِي آلِ عِمْرَانَ إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالأََرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ حَتَّى بَلَغَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ثُمَّ رَجَعَ إِلَى الْبَيْتِ فَتَسَوَّكَ وَتَوَضَّأَ ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى ثُمَّ اضْطَجَعَ ثُمَّ قَامَ فَخَرَجَ فَنَظَرَ إِلَى السَّمَاءِ فَتَلاَ هَذِهِ الأيَةَ ثُمَّ رَجَعَ فَتَسَوَّكَ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى
 Dari Ibnu Abbas ra bahwasanya suatu malam ia pernah menginap di tempat Nabi Saw, lalu di penghujung malam beliau bangun kemudian keluar dan memandang ke langit kemudian membaca ayat ini (ayat dalam surat Ali Imran), (Sesungguhnya di dalam penciptaan langit-langit dan bumi serta pergantian malam dan siang)...hingga beliau meneruskan sampai ayat (... maka jagalah diri kami dari adzab neraka). Kemudian beliau kembali lagi ke rumah dan bersiwak serta berwudhu. lalu berdiri melakukan shalat, kemudian berbaring dengan miring lalu bangun dan keluar memandang ke langit seraya membaca lagi ayat ini, kemudian masuk lagi ke rumah lalu bersiwak, berwudhu, kemudian berdiri melakukan shalat.” (HR. Muslim)
 Siwak Sebelum Wafat
 Bersiwak ini merupakan kebiasaan Rasulullah Saw kapan saja dan dimana saja, bahkan menjelang wafatpun beliau masih sempat bersiwak. Hal ini diungkapkan oleh Aisyah yang dengan bangganya menceritakan mendekap Rasulullah menjelang wafatnya di rumahnya sendiri:
 أَنَّ عَائِشَةَ كَانَتْ تَقُولُ إِنَّ مِنْ نِعَمِ اللَّهِ عَلَىَّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ j تُوُفِّىَ فِى بَيْتِى وَفِى يَوْمِى ، وَبَيْنَ سَحْرِى وَنَحْرِى ، وَأَنَّ اللَّهَ جَمَعَ بَيْنَ رِيقِى وَرِيقِهِ عِنْدَ مَوْتِهِ ، دَخَلَ عَلَىَّ عَبْدُ الرَّحْمَنِ وَبِيَدِهِ السِّوَاكُ وَأَنَا مُسْنِدَةٌ رَسُولَ اللَّهِ j فَرَأَيْتُهُ يَنْظُرُ إِلَيْهِ ، وَعَرَفْتُ أَنَّهُ يُحِبُّ السِّوَاكَ فَقُلْتُ آخُذُهُ لَكَ فَأَشَارَ بِرَأْسِهِ أَنْ نَعَمْ ، فَتَنَاوَلْتُهُ فَاشْتَدَّ عَلَيْهِ وَقُلْتُ أُلَيِّنُهُ لَكَ فَأَشَارَ بِرَأْسِهِ أَنْ نَعَمْ ، فَلَيَّنْتُهُ ، وَبَيْنَ يَدَيْهِ رَكْوَةٌ - أَوْ عُلْبَةٌ يَشُكُّ عُمَرُ - فِيهَا مَاءٌ ، فَجَعَلَ يُدْخِلُ يَدَيْهِ فِى الْمَاءِ فَيَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ يَقُولُ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ. ثُمَّ نَصَبَ يَدَهُ فَجَعَلَ يَقُولُ : فِى الرَّفِيقِ الأَعْلَى
 Bahwa 'Aisyah pernah berkata; Diantara nikmat yang Allah berikan kepadaku adalah bahwa Rasulullah Saw diwafatkan di rumahku, (yaitu) pada hari giliranku. Dan beliau ketika itu itu berada di antara dagu dan leherku. Dan sungguh Allah telah menyatukan air liurku dengan air liur beliau ketika beliau wafat. Pada waktu itu Abdurrahman masuk ke rumahku sambil membawa siwak. Sedangkan aku waktu itu bersandar kepada Rasulullah Saw. Aku melihat beliau melihat siwak itu. Aku tahu beliau menyukai siwak. Aku berkata: Aku ambilkan untukmu. Beliau memberi isyarat dengan mengangguk. Kamudian berikan kepada beliau. Namun siwak itu terasa kasar, aku bilangL aku akan haluskan siwaknya. Beliaupun mengangguk. Kemudian aku haluskan siwaknya, dan aku berikan padanya. Di antara kedua tangan beliau ada sebuah kaleng atau ember kecil, (rawai hadist (Umar) ragu-ragu apakah di dalamnya ada air. alu beliau memasukan kedua tangannya ke dalam kaleng tersebut lalu mengusapkannya ke wajahnya sambil berkata; Laailaaha Illallah sesungguhnya kematian itu sekarat (pilu). Kemudian beliau mengangkat tangannya seraya berkata; …Arrafiiqul A'laa…., kemudian beliau wafat dan tangannya jatuh lemas.“(HR. Bukhari)
 Kebiasaan Para Nabi
 Kebiasaan Nabi Saw bersiwak bukan sekedar kebiasaan saja, namun ternyata siwak itu adalah kebiasaan para Nabi pula. Tidak satupun Kitab suci agama samawi yang ada sekarang ini, menceritakan pribadi Nabi mereka secara mendetail bahkan sampai bersiwak pula, kecuali Islam. Dari hadist dibawah ini kitapun bisa mengetahui bahwa para Nabi dan para rasulpun dulunya bersiwak dan menjadi kebiasaan mereka.
 اَرْبَعٌ مِنْ سُنَنِ المُرْسَلِيْنَ الحَيَاءُ التَّعَطُّرُ وَالسِّوَاكُ وَالنِّكَاح
 “Empat macam kebiasaan para Nabi: Malu, memakai minya wangi, bersiwak dan nikah.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi. Hadist hasan) [6]
 Anjuran Siwak Kepada Sahabatnya
 “Aku sering menganjurkan kalian banyak bersiwak.” (HR. Nasai)
 لَقَدْ أُمِرْتُ بِالسِّواك حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ يَنْزِلُ عَلَيَّ فِيهِ قُرْآنٌ أَوْ وَحْيٌ
 “Aku selalu diperintah bersiwak hingga aku menyangka akan diturunkan wahyu padaku.” (HR Abu Ya’la dan Ahmad)[7]
 Bersiwaklah Karena Mampu Meraih Ridho Allah
 السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ
 “Siwak dapat membersihkan mulut dan (mamp mengapai) ridho Allah.”(HR. Nasai dan di sahihkan oleh Ibn Khuzaimah. Semua rawinya tsiqot).[8]
 Bagian II: Siwak Dalam Kehidupan Kita
 Gosok Gigi Yang Bagaimana Yang Dapat Pahala Itu..???
 Bersiwak ataupun menggosok gigi sambil meniatkan dalam hati bahwa hal itu dikerjakan untuk mendapat pahala, atau mengikuti sunnah Nabi Saw itulah yang akan diganjar pahala. Meskipun kita beranggapan bahwa menggosok gigi itu sudah dilakukan sejak kecil dan sudah menjadi kebiasaan yang dilakukan tiap hari, namun jika tidak meniatkan seperti yang diatas tentunya tidak ada pahala apapun. Dia nantinya hanya sekedar membersihkan gigi saja. Sebuah hadist mutawatir mengingatkan kita akan pentingnya menghadirkan Niat:
 إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإنَّمَا لِكُلِّ امْرِىءٍ مَا نَوَى ، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلى اللهِ وَرَسُوله فَهِجْرتُهُ إلى اللهِ وَرَسُوُله ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا ، أَو امْرأَةٍ يَنْكِحُهَا ، فَهِجْرَتُهُ إِلى مَا هَاجَرَ إلَيْهِ
 “Sesungguhnya amal perbuatanitu (sangat) tergantung kepada niat dan bagi seseorang (pahalanya itu) tergantung dari niatnya. Barang siapa yang hijrahnya (hanya) karena Allah dan rasulNya, maka hijrahnya untuk Allah dan RasulNya. Dan barang siapa yang hijrahnya (hanya) untuk meperoleh dunia semata atau untuk wanita yang akan dinikahinya, maka ia akan mendapatkan (apa yang ditujunya).” (HR. Bukhari Muslim
 Hadist diatas mengingatkan kita pentingnya berniat, karena niat itu adalah bagian yang tidak terpesihkan dari ibadah itu sendiri.
 Jadi niatkan dari sekarang ketika gosok gigi mengikuti Sunnah Nabi Saw, Insya Allah perbuatan harian yang kita lakukan, meski dianggap ternyata mampu menambah pahala sekaligus mengapai Ridho Allah.
 Ya Betul, Kalau Wudhu Saya Bisa Gosok Gigi..Kalau Solat !!
 Jadi bawalah sikat gigi kemana-kemana, meskipun ke kantor sekalipun. Tapi jika lupa bawa gogok gigi bisa bersiwak dengan menggunakan tangan seperti dalam hadist dibawah ini.
 Karena hadistnya panjang cukup ditulis bagian yang berkaitan dengan siwak menggunakan tangan:
 فَغَسَلَ يَدَيْهِ وَوَجْهَهُ ثَلاَثًا فَأَدْخَلَ بَعْضَ أَصَابِعَهُ فِيهِ واسْتَنْشَقَ ثَلاَثًا
 “Beliau membasuh kedua tanggan dan wajahnya tiga kali kemudian memasukan jarinya ke dalam mulut beliau. Kemudian berkumur dan menghirup air (oleh mulut) tiga kali….” (HR. Ahmad, Baihaqi dan Thabarani)
 Tapi bagaimana kalau akan solat di Masjid? Apa harus bawa sikat gigi pula?
 Para pakar fikih membolehkan bersiwak dengan sesuatu yang lembut misalnya dengan sapu tangan atau ujung baju. Jadi ketika hendak ke Masjid bisa mengosok gigi dulu di rumah ketika wudhu. Namun jika ternyata lupa sedangkan kita sudah berada di Masjid atau kasus seperti itu. Bisa kita gunakan sapu tangan atau ujung baju atau apa saja kemudian kita gogok gigi kita sekedarnya, untuk meraih pahala sunnah. Ataupun bisa menggunakan kayu aru yang sekarang sudah di jual banyak di toko-toko di Indonesia.
 Ibadah Yang Sangat Dianjurkan Sekali Bersiwak
 Sebenarnya bersiwak sangat dianjurkan setiap saat, namun ada lima keadaan yang sangat dianjurkan sekali yaitu:
 1. Ketika Wudhu
 2. Ketika Hendak Sholat
 3. Sebelum Membaca Al-Qur’an
 4. Bangun tidur

 5. Ketika berubah bau mulut
 Namun beberapa ulama menambahkan yaitu:
 6. Ketika masuk rumah
 7. Ketika hendak bertemu dengan orang lain
 8. Ketika gigi menguning [9]
 9. Ketika banyak bicara
 10. Ketika memakan bau yang tidak sedap [10]
 11. Ketika membaca atau belajar hadist
 12. Ketika Dzikir
 13. Waktu sahur
 14. Dan sesudah solat Witir [11]
 15. Ketika masuk masjid
 16. Ketika Mandi [12]
 Kesimpulan
 Siwak hukumnya Sunnah Muakkad (sangat dianjurkan sekali) dan sayang sekali jika meninggalkannya. Karena Siwak meskipun dianggap kecil namun mampu meraih ridho dan rahmat Allah Swt pula. Selain juga sebagain warisan berharga dari sunnah Nabi kita yang hendak menjadi Soleh dan Takwa. Siwak itu merupakan salah satu syariat sebelum kita karena siwak dianjurkan pula sejak Nabi Ibrahim seperti yang dierangkan oleh hadist diatas (Empat macam kebiasaan para Nabi….”), Bahwasannya Rasulullah Saw selalu bersiwak di setiap kesempatan bahkan menjelang wafatnya, beliau masih sempat bersiwak. Satu ibadah yang dianggap kecil terkadang tidak berarti, namun jika dilakukan karena anjuran Nabi dan mengikuti sunahnya maka ibadah itu akan berpahala besar. Bahkan disebutkan bahwa siwak dapat mengapai Ridho Allah Swt. Tidak mengapa mencari berkah dalam sebuah ibadah, mencari sehat dalam melaksanakan ibadah. Seperti siwak misalnya, selain dapat menyehatkan mulut dan gigi, siwak mampu pula meraih Ridho Allah Swt. Sebuah perbuatan kecil, didanggap remeh, namun ketika diniatkan ibadah, diniatkan mengikuti sunnah Nabi, mampu mengapai Ridho Allah. Dan tentunya perbuatan ini diharuskan pula (istiqomah).
Atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih,akhirul kata,wassalamualaikum wr wb.


                                                                               

Read More..